May 17, 2012

Tragedi Gunung Salak: Rusia Mencurigai Sukhoi Superjet 100 Jatuh karena Dibajak!

Kelihatannya tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak Rabu,9 Mei 2012 itu semakin mengarah kearena persaingan ekonomi, politik ,militer antara perusahaan industri pesawat terbang raksasa dunia .Meskipun para korban belum bisa dievakuasi karena demikian beratnya medan TKP lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 itu,akan tetapi masalah lainnya yang lebih serius kelihatannya satu demi satu mulai muncul kepermukaan .
Bahkan menurut informasi dari Rusia,bahwa pesawat Sukhoi Superjet 100 itu jatuh di gunung Salak, wilayah kabupaten Bogor , Jawa Barat .Targedi itu disinyalir disebabkan sabotase ,sebagaimana dirilis oleh kantor berita Rusia Ria Novosti Kamis,10 Mei 2012.Meskipun laporan tersebut kemudian dibantah oleh Duta Besar Rusia di Jakarta.
Bagi Rusia pesawat Sukhoi Superjet 100 tersebut merupakan pertaruhan nama kredibilitas Rusia,yang sedang mencoba menyaingi Boeing,Air Bus dalam berbagai jenis pesawat sipil terutama bagi pasar di Asia. Karenanya pemerintah Rusia segera membentuk Komisi khusus ,untuk menyelidiki sebab-sebab terjadi kecelakaan tersebut.Komisi yang dipimpin langsung oleh Menteri perindustrian dan perdagangan Rusia , Yury Sayusar,yang melibatkan Kementerian Luar Negeri,Kementerian Perindustrian dan pabrik Sukhoi sendiri.karena sangat seriusnya masalah itu bagi Rusia,maka intruksi tersebut langsung datanganya dari PM Rusia,Dimitry Medvedev.
Selain itu Moskow juga mengirimkan dua Tim SARnya untuk mengevakuasi korban Sukhoi Superjet 100 di tebing Gunung Salak itu,yang mendarat di Bandara Halim Perdana Kusumah Kamis malam,10 Mei 2012 , ujar atase pers Kedutaan Rusia di Jakarta,Dmitry Solodov .Tim SAR Rusia itu terdiri dari dua jet IL 76,dua Helikopter BK 117 yang dianggapnya sangat efektif untuk tugas-tugas tersebut.
Komisi itu akan mengusut tuntas berbagai aspeknya sejak pesawat Sukhoi Superjet 100 terbang dari Rusia sampai tragedi Gunung salak tersebut.Tim itu kononnya juga didukung oleh Perancis,sebagai gambaran betapa seriusnya masalah tersebut.Ada apa sesungguhnya di balik terjadinya tragedi itu ? memang terdapat beberapa kejanggalan terkait kecelakan Sukhoi Superjet 100 yang ditumpangi oleh berbagai para pengusaha dirgantara Indonesia,termasuk 4 wartawan media nasional dan 1 dari Blomberg ,delapan diantaranya crew asal Rusia sendiri.
Uji tes terbang pertama berjalan mulus,tetapi saat uji tes terbang yang kedua pesawat Sukhoi Superjet 100 dari Halim Perdana Kusumah pukul 14.00 wib,lalu setengah jam kemudian saat melintasi Gunung Salak kontaknya hilang dengan Bandara pada kordinat deploiting dalam radar pada kordinat 064308 South dan 064315 East .Bersamaan dengan itu pilot minta kepada pengawas bandara Halim Perdana Kusumah untuk menurunkan ketinggiannya dari 10.000 kaki(3000 meter)ke 6000 kaki(1800 meter),yang kononnya dikabulkan ,meskipun lebih rendah dari ketinggian Gunung Salak .Dan sekarang reruntuhan pesawat Sukhoi Superjet 100 itu  ditemukan hari Rabu 9 Mei 2012 pada ketinggian 55.00 kaki dari permukaan laut.
Selain itu  menurut anggota DPR dari komisi V,Yudi Widiayama Adia bahwa demo terbang yang dilakukan Sukhoi itu melanggar UU no.1 tahun 2009 tentang penerbangan.Ia katakan pula,sesuai dengan pasal 38 UU penerbangan ,semua pesawat yang akan melakukan uji terbang harus mendapat izin dan sertifikasi kelaik udaraan dari pemerintah Indonesia.Dalam konteks ini Kemenhub mengatakan bahwa belum mengeluarkan sertifikat layak terbnang standart Indonesia bagi pesawat Sukhoi  Superjet 100 tersebut.Namun kemudian dikatakan pula ,bahwa izin tes terbang bagi Sukhoi sudah di berikan oleh Kemenhub,Kemenlu dan TNI ujar Harry Bakti Dirjen perhubungan Kemenhub.
Kesimpang siuran itu juga bisa menimbulkan suatu tanda tanya besar bagi kita,sebenarnya ada  apa dibalik tragedi Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak  sehingga para pejabat terkait saling berbeda statemennya satu dengan lainnya.Dalam konteks ini perlu dipertanyakan apakah di ijinkan jika sebuah pesawat yang sedang promo uji terbang membawa penumpang  ?  Atau pengawas penerbangan Bandara Jakarta tidak mengetahui ketinggian kawasan Gunung Salak  sehingga mengabulkan permintaan pilot Sukhoi menurunkan ketinggian  terbang pesawatnya dari 3000 meter ke 1800 meter ?  Apa sesungguhnya yang terjadi.Kita akan tunggu saja lanjutannya.

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More