Powered By Blogger

Indra Adriarta Wijaya

by Indra Adriarta Wijaya - indra3shs.blogspot.com

Unik

by Indra Adriarta Wijaya - indra3shs.blogspot.com

Menarik

by Indra Adriarta Wijaya - indra3shs.blogspot.com

Penting

by Indra Adriarta Wijaya - indra3shs.blogspot.com

Indra Adriarta Wijaya

by Indra Adriarta Wijaya - indra3shs.blogspot.com

www.skinpacks.com
Showing posts with label Motivation-Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivation-Motivasi. Show all posts

October 3, 2012

TRAITS of SUCCESSFUL HUMAN BEING

There’s a lot of talk about what you should do to become successful, but I would argue that it’s more about who you are that makes the biggest impact.  It’s the decisions we make on a daily basis, the habits we naturally form in our lives that determine the level of success we can achieve.  Who we are determines how we react to life, even when we’re not consciously in the act of ‘being successful’.
So here are 10 traits that I’ve seen as essential for obtaining lasting success in any endeavor.

1. An Independent Nature

If we rely too much on those around us for assistance and/or support we will be setting ourselves up for disappointment in the future.  This is not to say that we shouldn’t look to others for help when the time is right, but crafting our pursuits in such a way that requires the intervention of another is like handing over the keys and getting in the back seat.  Our friends and colleagues may help open the doors of opportunity, but it is our own responsibility to take the wheel.

2. Self Confidence

Every decision we make in life will have some kind of effect on future outcomes.  If our choices our filtered through fear and doubt, we can be assured of the life we are trying to avoid.  Trust your instincts and listen to your heart.  When you make a mistake, don’t look at it as reason for doubt, but instead, realize the opportunity for wisdom as you continue to push ahead.

3. Persistence

It’s been 5 years since I started my consulting business.  5 years of long hours and hard work.  Many times did I consider throwing in the towel when things didn’t go my way.  But every year that’s gone by, every road block I’ve pushed through, my business has grown as my resolve to make it a success has strengthened.  Persistence is not an optional trait for those who desire success, but an essential attitude that must be embraced!

4. A Big Imagination

When I think of some of the greatest ‘achievers’ in American history I see great innovators and people of purpose.  Names like Henry Ford, Walt Disney and Bill Gates come to mind.  From cars to cartoons to computers, their personalities were as diverse as their pursuits.  But one thing they share is the wonderful ability to see what’s not yet visible to the naked eye.  It was the imagination of Henry Ford that first painted the picture of a car in every garage, and Bill Gates, a computer in every home.  And it was Walt Disney who continues to inspire millions with the idea that ‘anything is possible’.
Those with inevitable success can see the unseen.  They’ve become successful in their minds before they laid their first brick.

5. A Thick Skin

I’m a people pleaser at heart and can be devastated by disappointment.  But as a necessity in business, I’ve grown a thick skin that allows me to deflect defeat while maintaining my focus.  Whether in corporate conflict or the liabilities of life, it is those with a strong armor who will maintain their momentum.

6. Clarity Of Self Understanding

If you don’t know who you are, you will never truly know what you’re capable of.  It is in our daily pursuits that we need accurate information on our strengths and weaknesses to succeed.  Because being blind sided by your own inability or missing out on your true talents will bring nothing more than failure and frustration.

7. Clarity Of Intent

Continuing with the analogy of Ford, Disney and Gates, we can see three individuals with very clear intentions.  No one ever questioned Ford’s intentions of filling the roads with his Model T’s.  Disney was never far from his pursuits of capturing our imaginations.  And even when no one believed in his dream of populating every home with a PC, there was never a question of Gates greatest goal.

8. Focus

There’s a lot of talk about multi-tasking and single tasking when it comes to getting things done.  But however you go about accomplishing your goals, focus must be at the core of your character.  Successful people have the knack for deflecting distraction and keeping their nose to the grindstone.  It is our drive that pushes us forward and keeps our momentum, but without focus we will just be moving for the sake of motion.

9. Optimism

Many of the traits mentioned thus far would not be possible without this key ingredient.  Without being able to constantly see the cup as half full, we would never be able to stay focused.  Being blind to that silver lining would paralyze our persistence.  So it is absolutely crucial that our minds maintain a positive outlook on life and never give in to the destruction of defeat.  Optimism is at the heart of a successful human being!

10. Passion

Success can be obtained by many, but maintaining the drive to reach our goals requires a passion for pursuit and a lust for life.  We can create a to-do list and set our goals with the best of them, but without this necessary habitual hunger, we will most certainly fail to bring to the table the results we imagined.
»»  READMORE...

July 28, 2012

KISAH UANG Rp 1.000 DAN Rp 100.000

Uang Rp 1.000 dan Rp 100.000 sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh Bank Indonesia (BI).
Ketika bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar di masyarakat, 4 bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda.

Kemudian diantara kedua uang tersebut terjadilah percakapan; Yang Rp 100. 000 bertanya kepada Rp 1.000, 'Kenapa badan kamu begitu lusuk, kotor dan bau amis? Rp 1.000 menjawab, 'Karena aku begitu keluar dari Bank langsung ditangan orang-orang bawahan dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan ditangan pengemis.'
Lalu Rp 1.000 bertanya balik kepada Rp 100.000, 'Kenapa kamu kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih?'

Dijawabnya, 'Karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik, dan beredarnya pun di restoran mahal, di mall dan juga hotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet.' Lalu Rp 1.000 bertanya lagi, 'Pernahkah engkau mampir di tempat ibadah?'
Dijawablah, 'Belum pernah'
Rp 1.000 pun berkata lagi, 'Ketahuilah walaupun aku hanya Rp 1.000, tetapi aku selalu mampir di seluruh tempat ibadah, dan ditangan anak-anak yatim piatu dan fakir miskin bahkan aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Aku tidak dipandang bukan sebuah nilai, tetapi adalah sebuah manfaat.'

Akhirnya menangislah Rp 100.000 karena merasa besar, hebat, tinggi tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini. Jadi bukan seberapa besar penghasilan kita, tetapi seberapa bermanfaat penghasilan kita pakai untuk ke jalan yang benar.
Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan :)
»»  READMORE...

June 30, 2012

ISI DAN KEMASAN


Bu Mangun dari Klaten, sebuah kota kecil di Jawa Tengah sudah puluhan tahun memproduksi kripik paru sapi, rasanya gurih dan renyah sehingga sangat disukai bahkan dibeli orang untuk di jual lagi di kota-kota besar, termasuk Jakarta.
Kini Bu Mangun sudah digantikan anaknya dan semakin maju, jumlah karyawan semakin banyak sehingga sehari mampu memproduksi kripik paru sedikitnya satu setengah kwintal, bahkan selain kripik paru mereka juga memproduksi belut goreng.
Meskipun produk keluarga Bu Mangun banyak dikirim ke Jakarta, namun kita akan kesulitan kalau mencarinya di super market-super market berkelas, seperti Sogo misalnya. Selain produk tersebut tidak ada mereknya, juga supermarket-supermarket berkelas mengisyaratkan, salah satunya, kemasan yang menarik. Andaikan Bu Mangun memahami pelanggan Sogo, akan jadi lain ceritanya. Lain halnya kalau kita ke toko khusus makanan kecil, kita bisa menemukan kripik paru walaupun sudah diberi merek toko bersangkutan atau dalam wadah yang sudah rapi tanpa merek.
Ini cerita yang lain lagi. Keramik atau gerabah dari desa Kasongan, Yogyakarta, sekarang begitu dikenal orang, bahkan telah menjadi komoditi ekspor ke manca negara. Kasongan sendiri menjadi salah satu tujuan turis lokal maupun asing karena keramiknya. Padahal ketika saya masih kuliah di Yogyakarta kerajinan keramik dari Kasongan hanya dikenal oleh kalangan senirupa, baik para seniman maupun orang yang gemar seni keramik.
Saptohudoyo, seorang seniman Yogyakarta, adalah orang yang gigih memikirkan dan mengajarkan seniman-seniman Kasongan bagaimana memoles keramik Kasongan sehingga disukai oleh orang awam, pas dengan kebutuhan pasar. Saptohudoyo melihat potensi seni keramik Kasongan begitu bagus, hanya sayang finishingnya kurang pas sehingga penampilannya tidak bisa dinikmati banyak orang. Tapi setelah diupayakan perbaikan kini masyarakat seni Kasongan bisa hidup dari keramik, dan banyak orang asing bisa menikmatinya.
Selain mohon kekuatan Roh Kudus, dari kedua cerita nyata tersebut kita bisa belajar bagaimana seharusnya memfasilitasi perjumpaan manusia dengan Tuhan, sebagai core business gereja. Bu Mangun bisa begitu maju dan disukai orang karena kripik parunya berkualitas, gurih dan renyah meskipun tanpa merek atau kemasan yang bagus. Tetapi sayangnya produk yang bagus itu tidak bisa dinikmati oleh konsumen Sogo hanya karena tidak dikemas dengan menarik sehingga tidak ada di shelf Sogo. Demikian juga keramik Kasongan yang materi seninya pada dasarnya begitu bagus. Mungkin orang banyak tak akan pernah bisa menikmati seni Kasongan tanpa dipoles dan dikemas dengan baik. Kita musti menyesuaikan kemasan tanpa mengurangi kualitas produk itu sendiri.
Maka sebaiknya kita meniru apa yang sudah dilakukan oleh Saptohudoyo, yang dengan jeli melihat kualitas seni Kasongan yang begitu bagus lalu dengan kerja keras mempelajari kekurangan dan kelebihannya, membuat konsep perbaikan penampilan nya dan mengajarkannya kepada seluruh masyarakat seni Kasongan. Bahannya sama, corak seninya sama tetapi tehnik kemasannya lebih pas.
Kalau hal seperti ini kita lakukan, saya yakin banyak orang akan setia menikmati persekutuan kita dan merasakan perjumpaan dengan Tuhan. Karena bukan hanya isi yang bagus tetapi kemasanyapun pas dengan kebutuhan orang, sehingga orang suka menghampiri, membeli dan yang penting menikmati isinya. 

»»  READMORE...

June 10, 2012

Daun Terakhir

New York, 1967, daerah kumuh yang sangat memprihatinkan. Gedung - gedung 
tua berjejer. Apartment yang sempit, tembok yang berjamur, dan  orang-orang aneh menjadi ciri khas daerah itu. Orang-orang aneh itu sebagian besar adalah pelukis jalanan. mereka mencari nafkah dengan melukis, baik itu melukis di kanvas maupun melukis di trotoar. Sebagai pelukis jalanan, mereka hanya mampu mencukupi makan tiap hari dan sewa apartment yang murah itu.
Salah satu dari mereka adalah Marie. Dengan adiknya mereka berdua menyewa kamar yang sempit, yang sangat tidak layak untuk ditempati. 
Tempat tidur yang sudah busuk, dinding yang berjamur dan menyebarkan bau tidak enak, tapi apa boleh buat... uang yang mereka dapat tiap hari kadang untuk makan saja tidak cukup. Biarpun demikian, mereka pantang untuk melakukan sesuatu yang jelek atau melanggar hukum. Pernah ada yang menawari Marie dan Joan adiknya untuk memanfaatkan tubuh mereka demi uang, tapi mereka tetap pada prinsip mereka. Para pelukis di daerah itu memang gitu, salah satu ciri khas yang bisa dibanggakan. Mereka lebih memilih hidup miskin dan berkekurangan daripada berbuat sesuatu yang salah. Karena mereka, para pelukis itu adalah orang kristen. Setiap 
Minggu mereka selalu berkumpul untuk beribadah, meskipun tanpa pendeta yang melayani, mereka memakai saat itu untuk sharing, saling bertukar cerita dan saling menguatkan. Jika ada yang kurang beruntung suatu hari, mereka akan saling meno pang dan saling berbagi.
Suatu saat, saat musim dingin menusuk New York, Joan jatuh sakit. 
Tubuhnya menjadi sangat lemah dan semakin parah. Untuk bangkit dari tempat tidur saja dia tidak kuat. Dengan uang yang terkumpul dari para pelukis jalanan itu, Marie memanggil dokter, dan hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan. Joan mende rita radang paru-paru, diakibatkan dia selalu bekerja di luar menjual lukisan di trotoar, di tengah musim dingin, dan tanpa baju hangat yang layak. Untuk sembuh, Joan harus
beristirahat total, makan yang cukup bergizi, dan yang terpenting adalah semangat hidup yang tinggi untuk melewati masa-masa kritis di tengah musim dingin. Dan ini yang menjadi masalah terbesar. Joan sama sekali putus asa dan tidak mempunyai semangat hidup sama sekali. Setiap teman datang untuk menguatkan dia, tapi percuma. Dia berpikir bahwa inilah akhir hidupnya. Dia tahu benar keadaannya. Dia tidak akan mendapat makanan yang bergizi, dia tidak akan mendapat kehangatan yang cukup untuk melewati musim dingin, dan tidak ada obat untuk membantu dia 
bertahan. Semakin hari dia semakin putus asa dan semakin lemah. Marie sangat sedih akan hal ini. Semua upaya sudah dilakukan untuk membesarkan hati Joan, tapi sia-sia. Joan tidak bergairah untuk makan, bahkan untuk berbicara dengan siapa pun. 
Dia hanya mengucapkan beberapa kata di pagi setiap harinya, yaitu ketika matahari terbit, dia selalu meminta Marie untuk membuka jendela kamar agar dia dapat melihat tanaman yang merambat di dinding tembok yang berhadapan dengan kamar mereka. Tanaman itu merupakan tanaman menjalar yang berdaun lebar, dan tanaman itu merupakan semangat hidup Joan satu-satunya. Setiap kali Marie membuka jendela, dia melihat tanaman itu dan sambil tersenyum lemah dia berkata, "Tanaman itu lucu sekali, dia tahu bahwa dia hanya tanaman kecil yang lemah, hanya dapat bergantung 
pada tembok yang kokoh itu. Tapi dia sombong sekali, mengira bahwa dengan ber sandar pada tembok itu dia dapat melewati musim dingin yang ganas ini."
Marie sangat sedih setiap kali Joan berkata ini, "Suatu saat semua daunnya akan gugur dihantam angin musim dingin, saat itu juga aku akan pergi bersama dia."
Dan setiap pagi Joan selalu menghitung daun-daun itu. "Tujuh daun lagi." dan besoknya, "Enam daun lagi", "Lima daun lagi", dan Joan semakin lemah dan lemah. Marie pun putus asa, tidak ada harapan sama sekali. Dia hanya dapat berdoa agar daun-daun itu tetap bertahan, dan setiap pagi dia membuka jendela dengan hati yang berdebar-debar, berharap masih ada daun di situ.
Suatu pagi, Marie tergoncang sekali ketika melihat hanya ada satu daun yang tersisa melekat di tembok itu. Joan tersenyum lemah, "waktunya sudah dekat. Malam ini angin dingin akan mengantar kami." Marie semakin pasrah. malam itu dia tidak tidur, dia berdoa dan menangis, seiring dengan terjadinya badai. Angin mengguncang jendela-jendela dengan dasyat, Marie tetap berlutut dan menangis kepada TUHAN. Dia meminta suatu keajaiban, sesuatu yang dapat menahan kepergian Joan, dia sangat 
mencintai adik satu-satunya itu. Akankah Joan pergi dan bergabung segenap kelu arganya yang telah mendahului mereka ? Ayah, Ibu, dan adik-adiknya meninggal ketika kebakaran, api menelan semua harta mereka dan mengantar seluruh anggota keluarga, kecuali Marie dan Joan. Setelah mereka bertahan hidup sekian tahun, kini Joan akan pergi meninggalkan dia juga.
Paginya, suatu pagi yang menentukan, Dengan lemah Joan membuka mata dan 
meminta Marie membuka jendela agar dia dapat melihat tanaman itu. Dengan gemetar Marie membuka jendela, dan,.... ajaib ! Daun itu masih melekat pada tembok. Mustahil ! semalam terjadi badai yang dasyat, dan pagi ini daun itu masih melekat pada tembok seakan-akan tidak terjadi apa-apa semalam. Joan tersenyum lagi dan berkata "Aku masih mempunyai satu hari lagi" Marie sangat senang, tapi dia tetap khawatir. Hari ini daun itu dapat bertahan, tapi besok atau hari ini pasti dia akan gugur juga. 
Marie benar-benar sudah pasrah akan hal ini. Dia cuma dapat bersyukur bahwa dia masih boleh bersama Joan hari ini.
Besoknya, kembali dengan tangan bergetar Marie membuka jendela, dan.... daun itu masih tetap di situ ! Marie tidak dapat mempercayai hal ini, tapi dia senang sekali. Dia mengucap syukur dengan tidak henti-henti. 
Beberapa hari setelah itu, daun itu masih tetap bertahan. Hari ketujuh, Joan terse nyum dan berkata kepada Marie, "Daun itu menyadarkan aku. Kalau dia bisa sekuat itu, aku juga bisa. tolong buatkan bubur ya, aku lapar sekali." Marie sangat gembira. tanpa disuruh dua kali dia segera menyiapkan bubur buat Joan. Joan sudah mau makan kembali, itu tandanya semangat hidupnya tumbuh kembali.
Hari demi hari Marie merawat Joan, dan tiga minggu setelah itu Joan sudah berangsur-angsur sehat. Dia sudah dapat berjalan-jalan, cuma belum boleh keluar karena di luar masih musim dingin. Hari minggu kembali para pelukis itu berkumpul untuk kebaktian. Joan sangat senang dapat kembali berkumpul dengan sahabat-sahabatnya itu. Tapi dia merasa ada yang kurang. 
" Adakah yang dapat mengatakan kepadaku dimana si tua Paul ? sewaktu aku terba ring sakit dia sering datang membawakan kue kismis dan menguatkanku. Waktu itu aku tidak mempedulikan kalian sama sekali. 
Mungkin karena itu dia menjadi kecewa, dan sejak bulan lalu dia tidak pernah datang lagi ke kamar kami. Aku ingin minta maaf dan berterima kasih kepadanya. dimanakah dia ? "
Mendadak semuanya terdiam, dan dengan suara perlahan Marie menjawab, " Joan, bulan lalu si tua Paul ditemukan meninggal di kamarnya. Pagi hari setelah badai itu, mereka menemukan dia meninggal kedinginan, di tangannya dia menggenggam kaleng cat dan kuas. Daun yang terakhir itu, merupakan karya terakhirnya..... "
»»  READMORE...

Sangkar Burung yang Kosong

Suatu hari, seorang lelaki tua mengamati seorang anak yang sedang membawa sangkar berisi banyak burung.
Lalu dia bertanya, "Di mana kamu mendapatkan burung-burung tersebut, nak?"
"Saya menangkap mereka sendiri," anak itu menjawab.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan mereka?", tanya lelaki tua itu.
"Saya akan bermain dengan mereka," jawab anak itu.
"Lalu setelah itu, apa yang akan kamu lakukan?", tanya lelaki tua itu.
"Saya mungkin akan memberi mereka kepada kucing-kucing untuk dimakan."
"Berapa besar kamu mau untuk burung-burung tersebut?", tanyanya lagi.
"Oh,kamu tidak mungkin mau membelinya.Mereka hanyalah burung-burung biasa yang bisa ditemukan di padang," kata anak itu.
"Jadi berapa kamu mau?" lelaki tua itu memaksa.
Akhirnya, anak itu setuju untuk menjual burung-burung tersebut dengan sejumlah uang dan sangkar burung itu diberikan ke lelaki tua tersebut.
Ia mengambil sangkar itu dan pergi ke jalan yang sepi dan tenang.
Ketika ia melihat tidak ada orang yang melihat, ia membuka sangkar itu dan mele paskan semua burung-burung tersebut ke udara.

Suatu hari, Tuhan bertemu Iblis meninggalkan Taman Eden dengan sangkar besar yang penuh berisi manusia.
"Di mana kamu mendapatkan orang-orang ini?" Tuhan bertanya.
"Saya menangkap mereka," jawab Iblis.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan mereka?" tanya Tuhan.
"Saya akan bermain dengan mereka," Iblis menjawab.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan terhadap mereka?" tanya Tuhan lagi.
"Saya akan membunuh mereka," jawab Iblis lagi.
"Berapa besar yang kamu mau untuk mereka?" Tuhan bertanya.
Iblis berpikir sebentar lalu berbisik, "Kamu harus membayarnya dengan semua air mata yang dapat kamu tangisi, dan semua darah yang dapat kamu curahkan." Tuhan setuju dan sangkar itu berpindah tangan.
Tiga hari setelah air mata dan darah dicurahkan, ketika tidak ada seorangpun yang melihat, di suatu gua yang sepi dan tenang, Tuhan membebaskan manusia!

"Doa adalah nyanyian hati yang selalu dapat membuka jalan terbang kepada singga sana Tuhan meskipun terhimpit di dalam tangisan seribu jiwa..."
»»  READMORE...

May 25, 2012

Ayam atau Bebek

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam.
Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: "Kuek! Kuek!"
"Dengar," kata si istri, "Itu pasti suara ayam."
"Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.
"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.
"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!', bebek itu 'kuek! kuek!' Itu bebek, Sayang," kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.
"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.
"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.
"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.
"Dengar ya! Itu adalah bebek , B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.
"Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.
"Itu jelas-jelas bebek , kamu ? kamu ?"
Terdengar lagi suara, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.
Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam ?"
Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya , dan akhirnya , ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."
"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.
"Kuek! Kuek!" terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek ?
Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka , yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele?
Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek ?
Ketika kita memahami cerita tersebut , kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Banyak hal jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek.
Lagi pula , betapa sering kita merasa yakin , amat sangat mantap , mutlak bahwa kita benar , namun belakangan ternyata kita salah ?
Lho , siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek !
Kadang dalam pelayanan , kita juga berbuat hal yang sama , rasa ingin menonjol yang tinggi , merasa paling benar sendiri , sehingga rasanya Tuhan makin jauh saja , padahal yang kita perlukan adalah seberapa dekat kita dengan Nya , seberapa mudah kita menjamah tangan Nya , bukan mempersoalkan bagaimana caranya.
»»  READMORE...

Dipukuli Sampai Mati

Di penjara Gherla, seorang Kristen bernama Grecu dipukuli sampai mati. Prosesnya berlangsung berminggu-minggu lamanya, mereka melakukannya secara perlahan-lahan. Ia pernah dipukuli telapak kakinya dengan pentungan karet lalu ditinggalkan. Beberapa menit kemudian ia dipukuli lagi, lalu setelah beberapa menit kembali dipukuli. Alat vitalnya dipukuli. Lalu dokter menyuntiknya. Ia sembuh dan diberi makanan yang sangat baik untuk memulihkan tenaganya, lalu dipukuli lagi hingga akhirnya ia mati akibat pemukulan yang dilakukan berulang-ulang dan perlahan itu.

Salah seorang yang memimpin penyiksaan itu adalah seorang anggota Komite Sentral Partai Komunis, bernama Reck.

Saat pemukulan berlangsung, Reck mengatakan kepada Grecu sesuatu yang sering diucapkan komunis terhadap umat Kristen, "Tahukah kalian, akulah Tuhan. Aku berkuasa atas hidup dan matimu. Ia yang berada di surga tidak dapat menentukan hidupmu. Semuanya tergantung kepadaku. Bila aku mau, kamu hidup. Jika aku mau, engkau akan dibunuh. Akulah Tuhan!" Demikian ia mengejek umat Kristen.

Dalam keadaan gawat, Saudara Grecu memberikan suatu jawaban yang menarik kepada Reck.

Ia berkata, "Anda tidak menyadari bahwa ucapan Anda itu maknanya dalam sekali. Setiap ulat sebenarnya adalah kupu-kupu, jika ia berkembang dengan benar. Anda sebenarnya tidak diciptakan untuk menjadi penyiksa, seseorang yang membunuh. Anda telah diciptakan untuk menjadi seseorang yang menyerupai Tuhan, dengan kehidupan Allah dalam hati Anda. Banyak orang yang menjadi penganiaya dan pembunuh seperti Anda, menyadari -- seperti Rasul Paulus -- bahwa sangat memalukan bagi seseorang untuk melakukan kekejaman karena mereka dapat melakukan hal-hal yang jauh lebih baik. Dengan demikian, mereka ikut ambil bagian dalam sifat Tuhan. Yesus berkata pada orang Yahudi di zaman-Nya, 'Kalian adalah anak-anak Allah.'
Percayalah kepadaku, Tuan Reck. Panggilan Tuan yang sejati adalah untuk menjadi serupa dengan Tuhan -- untuk memiliki karakter Allah, bukan penyiksa."

Saat itu, Reck tak ambil peduli pada perkataan korbannya, seperti Saulus dari Tarsus yang tak peduli akan kesaksian Stefanus yang indah, yang dibunuh saat kehadirannya. Namun, kata-kata itu bekerja dalam hatinya. Kelak, Reck menyadari bahwa memang itulah panggilannya yang sebenarnya.

Bahan diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Berkorban demi Kristus
Judul asli artikel: Kami Membuat Suatu Kesepakatan
Penulis : Richard Wurmbrand
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2000
Halaman : 44 -- 45
»»  READMORE...

Hari ini dia, esok siapa?

Dari kejauhan Jack terus menekan kuat pedal gas kendaraannya. Ia tidak mau terlambat. Apalagi lampu merah di wilayah yang dilaluinya menyala cukup lama.
Lampu lalu lintas berganti kuning. Sekitar tiga meter menjelang garis putih horisontal di jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang. Haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah, aku tidak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,"pikirnya, sambil terus melaju.
PRIIIT!!! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack menepikan kendaraan sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Hey, itu kan Bob, teman semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega.
Ia melompat keluar dari dalam mobil sambil berkata: "Hai, Bob! Senang sekali ketemu kamu lagi!". "Hai, Jack," sapa Bob tanpa senyum.
"Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah. Hari ini dia ulang tahun, jadi dia dan anak-anak sudah menyiapkan pesta di rumah. Tentu aku tidak boleh terlambat dong," kata Jack.

Bob berkata, "Saya mengerti. Tapi sebenarnya saya sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini." Jack mulai gelisah. Ia harus ganti strategi. "Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat tadi lampu kuning masih menyala kok." Aha.. terkadang berdusta sedikit tentu bisa memperlancar situasi.
"Jack, kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu," ujar Bob dingin. Dengan wajah ketus, Jack menyerahkan SIM-nya ke Bob lalu masuk ke dalam mobilnya dan menutup kaca jendela. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya.
Tak lama berselang, Bob muncul dan mengetuk kaca mobil Jack. Jack yang kadung kesal dan marah hanya membuka kaca jendela sedikit. Ujarnya mengumpat di dalam hati, "Ah, masa lima senti sudah cukup untuk memasukkan surat tilang?"
Sesudah Jack menerima surat tilang itu dia langsung menekan kembali pedal gas, memacu mobilnya dan cepat berlalu dari tempat tersebut. Tanpa berkata-kata Bob pun kembali ke posnya.

Setelah agak jauh dari tempat kejadian, Jack hendak memasukkan SIM-nya ke dompet. Saat itu ia terkaget-kaget setelah melihat selembar surat tapi bukan surat tilang. "Surat apa ini? Ini bukan surat tilang! Kenapa ia tidak memberiku surat tilang?" tanya Jack. Seketika itu juga ia langsung meminggirkan mobilnya dan membaca surat dari Bob tadi.

Begini isi surat tersebut:

Halo, Jack. Tahukah kamu aku mempunyai seorang anak perempuan. Anakku satu-satunya. Ia sangat cantik dan lincah. Aku dan istriku sangat menyayanginya.
Sayang, ia sudah meninggal karena tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah, saat ia melintas bersama ibunya di zebracross.
Anakku langsung meninggal di tempat. Istriku sampai saat ini mengidap depresi hebat. Pengemudi yang sembrono tadi hanya dihukum penjara selama tiga bulan saja. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi.
Sedangkan aku? Aku kehilangan malaikat kecil kesayanganku. Aku dan istriku masih
terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengaruniai seorang anak lagi, agar dapat kami peluk. Tapi, kondisi istriku tidak memungkinkan.
Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Oh.. betapa sulitnya! Begitu juga kali ini.
Maafkan aku, Jack. Doakan agar permohonan kami mempunyai anak terkabulkan.
Berhati-hatilah saat menyetir.

Dari temanmu,
Bob


Jack kaget sekali saat ia membaca surat Bob. Ia langsung memutar balik mobilnya dan pergi ke pos jaga Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos itu, entah ke mana.
Sepanjang jalan pulang Jack mengemudi dengan hati-hati dan ia berjanji dalam dirinya untuk menahan diri agar tidak ngebut dan menyetir ugal-ugalan. Kali ini Ia teringat akan anak-anaknya.

Seorang gadis kecil, di tepi jalan..
Rambut melambai, berpita merah..

Senandung kecil ..la la la.. di bibirnya..
Dalam langkah kecil, seirama kakinya..

Satu perempatan jalan, dilewat sudah..
Si gadis kecil masih berjalan riang..

Di antara roda-roda, yang berputar di jalan..
Setengah batu lagi, sampailah di rumah..

Ketika si gadis melintas di jalan..
Matanya yang manis, mendadak menyala..
Sebuah kereta mesin yang ganas..
Menerjang dan... melindasnya..

Gadis kecil terkapar di aspal panas..
Tinggal menatap ibu bapa, memungutnya..

Sebuah permata keluarga hilang sudah..
Hari ini dia, esok lagi siapa.........

Hari ini dia, esok lagi siapa.........
Hari ini dia, esok lagi siapa...
......

Memang, tak selamanya orang harus mengerti kita. Bisa jadi kesukaan kita adalah kedukaan orang lain. Hidup ini sangat berharga, karena itu jalanilah dengan penuh hati-hati dan saling menghargai.

* Cerita ini dikutip dari milist FSRJ dan mengadopsi lirik "Hari Ini Dia, Esok Siapa" yang dinyanyikan Tika Bisono dalam album Suara Persaudaraan. *
»»  READMORE...

Hati yang Luka

"Ibu, apakah orang lain yang melihat mukaku akan ngeri?" kata-kata itu terlontar dari mulut anak laki-laki kesayanganku, yang mengalami kanker rongga mulut dan telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya.
Pertanyaan itu keluar pada saat ia mau keluar rumah dan melangkah ragu karena menyadari keadaannya.

Ia pernah menjalani operasi terapi sinar dan minum obat untuk memperingan sakitnya yang membawa banyak perubahan pada fisik dan menyebabkan garis-garis luka pada wajahnya. Dengan menahan perasaan dan air mata, aku menepuk-nepuk pundaknya dan dengan setengah bercanda aku berkata, "Tidak sayang, kamu masih kelihatan sangat tampan!" Kata-kata yang memberikan penghiburan dan semangat bagi dia untuk berani melangkah keluar rumah bersamaku ke supermarket.

Pemuda yang bertubuh atletis, tampan dan menyenangkan, dengan pekerjaan yang bagus, tetapi harus bergumul dengan penyakit yang mengharuskan dia menderita secara lahir dan batin. Ia memiliki teman, orang tua, adik, sanak famili, dan istri yang sangat mencintai dan memerhatikannya. Ia memperoleh kehangatan, simpati, perawatan dalam penderitaannya, walaupun ia tidak pernah menyatakan keluh kesahnya pada orang lain.

Adakalanya anak lelakiku itu membuat kue untuk menyambut teman yang datang mengunjunginya, memasak untuk istrinya yang pulang dari kerja. Kasih mesra dengan istrinya tidak pernah terpengaruh oleh kondisi tubuh yang sakit melainkan mereka bersama-sama menghadapi penyakit yang dideritanya, walaupun akhirnya ia harus meninggalkan aku dan istrinya untuk pulang ke rumah Bapa di surga.

Kepergian anak yang kusayangi meninggalkan luka yang sangat mendalam dalam hatiku, tidak ada orang yang dapat menyelami perasaanku itu.
Aku pernah bertanya, "Bagaimana mungkin Tuhan tega memetik bunga yang baru mekar itu?" dan "Mengapa Tuhan memberikan pencobaan itu padaku?" Kesedihan itulah yang membuat aku marah pada Tuhan dan beberapa tahun lamanya aku menjauhkan diri dari Tuhan.

Setelah sekian lama aku mengalami kesedihan, akhirnya aku sadar bahwa Tuhan memiliki tujuan terhadap apa yang terjadi pada orang-orang pilihan-Nya dan aku dapat menjadi lebih bersyukur dalam penderitaan. Aku teringat peristiwa yang mengharuskanku membawa seluruh keluargaku percaya pada Tuhan dan menerima dia sebagai Juru Selamat.

Aku teringat suatu sore tahun 1985; seusai pulang kerja aku naik bus dan setelah sampai tujuan aku turun, tatkala menyeberang jalan ada truk dengan kecepatan tinggi menerjang aku tanpa aku sempat menghindar. Aku hanya bisa berkata, "Tamatlah riwayatku!" Tapi sungguh mengherankan dalam keadaan yang sangat kritis tiba-tiba truk itu berhenti. Meskipun demikian truk itu sempat menyenggol tangan kananku dan mengakibatkan luka-luka ringan. Aku bersyukur atas perlindungan Tuhan yang tepat waktu sehigga aku terhindar dari kematian. Sesampai di rumah, kami sekeluarga mengucap syukur atas perlindungan Tuhan. Sejak itu, timbul pemikiran bahwa anak laki-lakiku dan istrinya serta anak perempuanku belum percaya pada Tuhan, sedangkan aku dan suamiku sudah percaya pada Tuhan. Aku berpikir, seandainya aku meninggal dalam kecelakaan itu, bagaimana aku punya muka untuk bertemu muka dengan Tuhan? Padahal waktu itu dokter telah menemukan penyakit yang diderita anakku.

Aku semakin bersungguh-sungguh berdoa agar Roh Kudus bekerja di tengah-tengah keluargaku sehingga satu persatu keluargaku percaya kepada Tuhan. Aku memohon agar Tuhan menolong supaya pada masa tuaku dapat memberitakan kuasa Tuhan kepada semua orang. Aku ingat menjelang hari Natal, aku meminta tolong seorang pendeta untuk membelikan dua Alkitab sebagai hadiah Natal bagi kedua anakku.
Pendeta menasihatkan supaya aku banyak berdoa memohon bimbingan Roh Kudus agar anakku mengenal kebenaran.

Aku sungguh bersyukur pada Allah yang menyayangi hamba-Nya dan Roh Kudus yang telah bekerja. Karena tidak lama kemudian anak perempuanku dan pacarnya bukan hanya ikut kebaktian, tapi juga menerima baptisan. Sedangkan anak lelakiku yang sedang gawat karena kanker rongga mulut -- segala pengobatan yang telah dilakukan tidak dapat meringankan penyakitnya, Tuhan membuka mata hatinya sehingga mau menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya.
Dan yang sangat menggembirakan, istrinya pun ikut percaya sehingga mereka bersama-sama menerima baptisan kudus.

Luka hati yang sangat dalam karena ditinggalkan seseorang yang kita cintai, tidak akan mudah untuk dilupakan. Tapi aku yakin bahwa Allah yang aku percaya akan selalu berada di sampingku, memimpin dan melindungi sepanjang hidupku yang penuh kelelahan dan penderitaan.

Bahan diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Jalan Tuhan Terindah
Judul artikel: Hati yang Luka
Penulis : Pdt. Paulus Daun, M. Div, Th. M
Penerbit : Yayasan Daun Family Manado
Halaman : 3 -- 6

»»  READMORE...

Top PC Video Graphics Card


There are a remarkable variety of graphics cards on the market aimed at gamers. While the very latest technology is always expensive, there are also solutions for those who don't have hundreds of dollars to spend. These video cards were selected because they are good values in their class, and they are ordered roughly from fastest (most expensive) to slowest (most affordable). I can't include every quality card, but I do update the list when I can, so your suggestions are welcome.

1. Nvidia GeForce GTX 570

In late 2010 Nvidia introduced their GeForce 500 series, beginning with the GTX 580 and GTX 570. The former has taken over the top spot in the single-GPU speed contest, but it comes at a price that makes two lesser cards in an SLI or Crossfire configuration a more practical option. The GTX 570 is a dialed down version of the 580, but it readily outperforms the previous generation GTX 480. 1.25 GB of GDDR5 memory is standard on the 570 and it has two 6-pin power connectors. It's priced competitively and it's a great card for high-end gaming.
Compare Prices
Ads
Samsonite Laptop CaseStylish & Strong Case For All The Business Traveller's Need. Buy Now!www.samsonite.co.id/laptop
PCIe Cables in stockx4, x8, x16 versions up to 5M long. Order today for immediate shipmentwww.tmcscsi.com/
Binary Options TradingMake Up To 310% Profit ! Easy to Use System. 24% Start Bonus24option.com/Binary_Options

2. AMD Radeon HD 6970

Radeon's current flagship GPU is the HD 6970, which arrived shortly after their very successful 6800 series. These cards fall slightly behind the GTX 570 on most benchmarks, although the 6970's 2 GB of memory can give it an edge at very high resolutions like 2560x1600. HD 6970 cards tend be very large at about 11 inches long, and they need both 8-pin and 6-pin auxiliary power. They're in the same price range as the GTX 570 and they offer a similar value in terms of game performance. If you use more than two displays, most people find AMD’s Eyefinity easier than the alternatives.
Compare Prices

3. AMD Radeon HD 6950

A step down from the HD 6970, the 6950 has fewer stream processors and texture units than its more expensive sibling, but it still has 2 GB of memory and delivers impressive framerates. It's a little ahead of the HD 6870, but not quite as fast as a GTX 480. The HD 6950 biggest competition right now could be the older Radeon HD 5870s, which are selling at big discounts because they are on their way out.
Compare Prices

4. Nvidia GeForce GTX 560 Ti

The first GTX 560 cards appeared in late January of 2011, just in time to do battle with the Radeon HD 6950. The 560 Ti represents a jump in performance of roughly 35 percent over the previous generation GeForce GTX 460 with only the slightest increase in power consumption, and it has launched at about the same price point. Unlike many of AMD's recent offerings, these cards have only 1 GB of memory, so they're not really aimed at those with 28" monitors, but they provide exceptional value for those in the market for a mid-range card.
Compare Prices

5. AMD Radeon HD 6870

Launched in October 2010, the first cards in Radeon's HD 6000 series don't dramatically outperform the previous generation, but they do improve on power consumption and the chips are smaller, which makes them cheaper to produce. The HD 6870 falls a little behind the HD 5870 on some game benchmarks, but it's currently priced at around $230, which is considerably less than a 1 GB HD 5870, making the 6870 an obvious choice. While I wouldn't recommend upgrading from a 5800 series card right now, if you're just making the move to DirectX 11, the HD 6870 offers solid value.
Compare Prices

6. AMD Radeon HD 6850

Much like the HD 6870, the 6850's price stands out more than its performance, although it's certainly no slouch when it comes to running games. The difference in framerates between a HD 6850 and an HD 5850 or 5830 is barely noticeable in most games, but the 6850 launched at $180. That makes it a better option than either of its previous generation brethren, although there could be some major price drops in store for 5800 cards. Still, its difficult to choose between an HD 6850 and a GeForce GTX 460 at the moment as they are very evenly matched.
Compare Prices

7. Nvidia GeForce GTX 460

The GTX 460 is the predecessor to the GTX 465, and it benefits from a re-designed chip that is less complex and less power hungry while maintaining very similar performance. There are 1 GB and 768 MB versions of the card available, the latter of which has a 192-bit memory bus rather than 256-bit. The GTX 460 and the Radeon HD 5830 are very close on most game benchmarks, and they are also not far apart in price. I think the extra money for the 1 GB model is probably well worth it.
Compare Prices

8. Nvidia GeForce GTX 470

Nvidia's first DirectX 11 cards arrived in 2010, and they've managed to bring GeForce cards back into the competition. The The GTX 470 is a step down from the very fast and very pricey GeForce GTX 480, which is strictly for people with deep pockets. The GTX 470 benchmarks quite close to the Radeon HD 5850 and even the 5870 in some games. It consumes more power than the Radeon HD 5000 cards, especially when idle, but it's a great card for high-end gaming, and selling for a lot less than the GTX 480, it's a much more palatable option.
Compare Prices
Ads
Half-Life 2 Graffiti ArtUnique Stencil Art Posters For Gamerswww.oversprayart.com
Humble Gaming CommunityCommunity for ambitious gamers Join now and get early view of ushumblegc.com

9. AMD Radeon HD 5970

Radeon's dual-GPU monster is the HD 5970, which arrived in late 2009 and took its place as the fastest discrete video card on the market. Essentially, it is the equivalent of running two HD 5870s in CrossFire, although the chips and memory aren't clocked quite as fast, primarily to keep power consumption in check. As it is the card can draw close to 300W, and has both a 6-pin and an 8-pin auxiliary connector. The HD 5970 uses a single PCB, and the result is a very long card that will only fit into the roomiest cases. There's ample processing here even for the largest monitors, but it's well beyond the average budget.
Compare Prices

10. Nvidia GeForce GTX 480

Although the GTX 480 has been supplanted by the GTX 580, it still has impressive specs for gaming, such as 1.5 GB of GDDR5 memory tied to a 384-bit bus. As you would expect, it's very large and it has both an 8-pin and a 6-pin power connector, so a good power supply is required. Unfortunately, it comes at a premium price that few of us would consider spending on a video card, making the GTX 570 a better value, but you may come across one on sale as the 500 series cards take over.

»»  READMORE...

Perbedaan Processor i3, i5, i7



Intel sudah agak lama merilis processor terbarunya yaitu Intel core i7, kemudian disusul i5 dan i3. Yang perlu diperhatikan nanti Intel ga bakal pake lagi brand core 2 duo dan core 2 quad, sedangkan brand pentium dan celeron bakal dipertahankan. Terus kalo brand centrino mereka bakal pake di produknya yang berbasis Wifi dan Wimax, jadi ga bakal lagi kita nemuin notebook dengan brand Intel Centrino.

Lalu apa perbedaan dari ketiga produk barunya tersebut? Intinya sih core i3 ditujukan buat Entry Level, core i5 buat mid level, kalo core i7 buat High Level. Terus ketiganya bakal ditanam di dekstop maupun notebook. Selain itu, core i5 dan i7 mengadopsi fitur “Intel Turbo Mode Technology” dimana fitur ini akan mematikan core yang tidak dipakai ketika memproses aplikasi yang hanya membutuhkan single thread, ketika memproses aplikasi single thread, processor akan mengoverclock aliran thread data yang berjalan di atasnya sehingga pemrosesan lebih cepat, sedangkan jika memproses aplikasi yang bukan single thread, core tersebut akan hidup kembali.

Berikut deskripsi lebih jelasnya mengenai ketiga produk ini:

Intel Core i7

Core i7 sendiri merupakan processor pertama dengan teknologi “Nehalem”. Nehalem menggunakan platform baru yang betul-betul berbeda dengan generasi sebelumnya. Salah satunya adalah mengintegrasikan chipset MCH langsung di processor, bukan motherboard. Nehalem juga mengganti fungsi FSB menjadi QPI (Quick Path Interconnect) yang lebih revolusioner.



Intel Core i5

Jika Bloomfield adalah codename untuk Core i7 maka Lynnfield adalah codename untuk Core i5. Core i5 adalah seri value dari Core i7 yang akan berjalan di socket baru Intel yaitu socket LGA-1156. Tertarik begitu mendengar kata value ? Tepat ! Core i5 akan dipasarkan dengan harga sekitar US$186.

Kelebihan Core i5 ini adalah ditanamkannya fungsi chipset Northbridge pada inti processor (dikenal dengan nama MCH pada Motherboard). Maka motherboard Core i5 yang akan menggunakan chipset Intel P55 (dikelas mainstream) ini akan terlihat lowong tanpa kehadiran chipset northbridge. Jika Core i7 menggunakan Triple Channel DDR 3, maka di Core i5 hanya menggunakan Dual Channel DDR 3. Penggunaan dayanya juga diturunkan menjadi 95 Watt. Chipset P55 ini mendukung Triple Graphic Cards (3x) dengan 1×16 PCI-E slot dan 2×8 PCI-E slot. Pada Core i5 cache tetap sama, yaitu 8 MB L3 cache.

Intel juga meluncurkan Clarksfield, yaitu Core i5 versi mobile yang ditujukan untuk notebook. Socket yang akan digunakan adalah mPGA-989 dan membutuhkan daya yang terbilang cukup kecil yaitu sebesar 45-55 Watt.



Intel Core i3

Intel Core i3 merupakan varian paling value dibandingkan dua saudaranya yang lain. Processor ini akan mengintegrasikan GPU (Graphics Processing Unit) alias Graphics On-board didalam processornya. Kemampuan grafisnya diklaim sama dengan Intel GMA pada chipset G45. Selain itu Core i3 nantinya menggunakan manufaktur hybrid, inti processor dengan 32nm, sedangkan memory controller/graphics menggunakan 45nm. Code produk Core i3 adalah “Arrandale”.


Berikut Tabel Detail mengenai ketiga produk ini:


»»  READMORE...

May 8, 2012

Kekuatan Karakter Bagi Masa Depan Anak


Kekuatan Karakter Bagi Masa Depan Anak
“Orang mungkin tidak mengetahui tujuan kehidupannya, tetapi ia harus tahu cara menjalani kehidupan”
Saya melihat salah seorang siswa di lingkungan tempat tinggal saya sangat tekun belajar. Sampai-sampai, ia tidak sempat meluangkan waktu untuk bermain dengan teman sebayanya. Tuntutan sekolah yang begitu banyak membuatnya harus berlama-lama di kamar untuk mentransfer informasi yang ada di buku ke dalam otak atau memorinya. Saya sangat kasihan dengan siswa tersebut. Mengapa? Di satu sisi, siswa tersebut memang terasah kemampuan kognitifnya. Namun di sisi lain, ia mengalami ketimpangan atau kelumpuhan emosional (afektif). Hidup itu seperti naik sepeda, perlu sekali menjaga keseimbangan. Jika keseimbangan tidak terjaga maka akan jatuh.
Melihat siswa tersebut, saya sarankan pada orangtuanya untuk membantu mengatur waktu, agar ia tidak terkurung di dalam kamar, sementara kawan-kawannya asyik bermain. Yang tidak ia sadari, bahwa bermain sebenarnya juga bagian dari proses belajar.
Seperti yang kita ketahui, manusia sebenarnya memiliki daya cipta, rasa dan karsa. Karena itu, ketika hanya daya cipta (IQ) saja yang diasah, maka terjadi ketidakseimbangan. Lalu apa yang terjadi? Tentunya, efek dari pola pendidikan yang hanya menitik beratkan pada daya cipta (kognisi / IQ) saja dan mengabaikan rasa (afeksi / EQ) dan karsa (action) akan terasa dan terlihat di kala si anak tumbuh dewasa. Si anak tersebut akan lumpuh sosial. Mengapa saya katakan lumpuh sosial? Lumpuh sosial terjadi ketika si anak tidak mampu menjalin hubungan di lingkungan sosialnya. Padahal, dalam setiap pergaulan di masyarakat, baik pergaulan dalam pekerjaan, pergaulan organisasi, pergaulan di sekolah dan lain-lain pasti butuh untuk menjalin hubungan dan bekerjasama dengan sesama. Pada akhirnya bisa menghambat perkembangan potensi dirinya.
Bukankah sudah menjadi kebutuhan mendasar kita sebagai manusia untuk saling bekerjasama. Dengan bekerjasama, sebenarnya kita membuka banyak peluang untuk mempelajari banyak hal. Dengan begitu kita bisa menambah kesempatan untuk mengeksplore diri kita. Inilah letak pentingnya pergaulan dan interaksi sosial.
Dulu, orang tua memang mengarahkan anak-anaknya untuk mengasah IQ-nya. Sebab, IQ yang tinggi diartikan sebagai tingkat kecerdasan yang tinggi pula (dan konon jadi resep sukses kalo IQ tinggi). Namun, sebuah kesadaran baru akhirnya muncul bahwa ada kecerdasan lain yang juga tidak bisa diabaikan, yakni kecerdasan emosional.
Keseimbangan antara kecerdasan kognitif (pengetahuan), perasaan (afektif) dan tindakan (action) akan membangun kekuatan karakter diri yang baik. Karakter diri sangatlah penting peranannya. Sebab,karakter diri adalah cara pikir dan prilaku yang khas dari individu untuk hidup dan bekerjasama dengan sekitarnya.
Terkadang, karakter diri seseorang terasa tidak seimbang. Ada orang yang memiliki ide-ide brilian namun tidak mampu bekerjasama dengan teamworknya. Itu menunjukkan orang tersebut memiliki kecerdasan IQ yang baik sedang kecerdasan emosionalnya buruk. Ada juga orang yang memiliki otak cemerlang, dia juga baik, namun malas bekerja. Itu menunjukkan actionnya lebih lemah dibanding IQ dan EQ nya.
Karakter diri akan semakin kuat jika ketiga aspek tersebut terpenuhi. Karakter diri yang baik ini akan sangat menentukan proses pengambilan keputusan, berperilaku dan cara pikir kita. Yang pada akhirnya akan menentukan kesuksesan kita. Lihat saja, seorang Nelson Mandela meraih simpati dunia dengan ide perdamaiannya. Bunda Teresa menggetarkan dunia dengan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesamanya. Bung Karno dengan ide, kegigihan dan kecerdasannya masih terasa bagi kita bangsa Indonesia yang telah melalui tahun millennium.
Semua itu adalah wujud dari kekuatan karakter yang mereka miliki. Ini menegaskan bahwa, karakterseseorang menentukan kesuksesan individu. Dan menurut penelitian, kesuksesan seseorang justru 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosinya, sedangkan kecerdasan intelegensianya mendapat porsi 20 persen.

Membangun Kekuatan Karakter

Pada diri setiap individu memiliki karakternya masing-masing. Lingkungan memiliki peran penting dalampembentukan karakter. Karakter kita, memiliki peran penting dalam proses kehidupan. Sebab,karakter mengendalikan pikiran dan perilaku kita, yang tentu saja menentukan kesuksesan, cara kita menjalani hidup, meraih obsesi dan menyelesaikan masalah.
Sebenarnya masing-masing dari kita memiliki karakter yang khas. Dan, kekhasan karakter tersebut merupakan kekuatan karakter kita. Sebab, kekhasan atau keunikan itulah yang membedakan kita dengan individu lainnya. Si penghibur akan menebarkan semangat, si pengatur akan memanajemen organisasi. Mereka yang bijak dan tidak suka konflik bisa menjadi pendamai. Itu semua adalah kekuatan karakter. Dan, setiap karakter akan dibutuhkan dalam setiap pergaulan, baik pergaulan kerja, organisasi atau masyarakat.
Ingatlah! Kekuatan karakter harus dibangun sejak awal. Membangun kekuatan karakter bisa dilakukan melalui pendidikan karakter baik di lingkungan formal seperti sekolah, atau non-formal seperti keluarga dan masyarakat. Pendidikan karakter diberikan melalui penanaman nilai-nilai karakter. Bisa berupa pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Outputpendidikan karakter akan terlihat pada terciptanya hubungan baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, masyarakat luas dan lain-lain.
Pendidikan karakter tidak hanya diberikan secara teoritik di sekolah, namun juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu adalah bukti bahwa pendidikanyang diberikan telah merasuk dalam diri seseorang. Ketika makan bersikap sopan, ketika hendak tidur membaca doa, ketika keluar rumah berpamitan, tekun dan semangat mewujudkan obsesi dan cita-cita, jujur, berbuat baik kepada hewan dan tumbuhan, tidak membuang sampah di sembarang tempat dan lain-lain.
Membangun kekuatan karakter dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen. Sebab, setiap elemen akan berpengaruh dalam proses pembentukan karakter individu. Seorang anak akan meniru dan mengidentifikasi apa yang ada di sekelilingnya. Role model positif akan membentuk karakter yang positif dan sebaliknya role model negatif akan membentuk keprbadian dan karakter negatif. Karena itu, setiap unsur lingkungan hendaknya dibangun secara positif, sehingga karakter anak akan terbentuk secara positif juga.
Lalu bagaimana cara membangun kekuatan karakter itu? Kekuatan karakter akan terbentuk dengan sendirinya jika ada dukungan dan dorongan dari lingkungan sekitar. Bayangkan sebuah lidi tidak akan memiliki daya untuk menghalau sampah-sampah. Namun, jika didukung oleh ratusan lidi yang lain akanmembentuk satu kekuatan untuk membersihkan halaman rumah. Begitu juga dengan karakter, akan menjadi kuat ketika didukung oleh lingkungan. Peran keluarga, sekolah, masyarakat sangat dominan dalam mendukung dan membangun kekuatan karakter.
Karakter yang kuat pada akhirnya akan berperan optimal di setiap interaksi sosial. Sehingga, individu dengan karakter kuat tersebut akan memberikan sumbangsih –baik moril atau spirituil- yang berdaya guna bagi sekitarnya.
Salam
Timothy Wibowo
»»  READMORE...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More